Tag Archives: deakin university

Apr. 14.

9 Students of Deakin University Studied in UNP

Nine students from Deakin University had finished their visit in UNP. These students stayed in Padang for one and half months to study bahasa Indonesia at Bahasa Indonesia Department of Faculty of Languages and Arts UNP. Beside studying bahasa Indonesia, they also learned some Minangkabau culture, such as, cooking traditional food, traditional dance, traditional games.
This program was coordinated by Dra. Emidar, M.Pd. (former chairperson of Indonesian Department). These students also had chance to visit some beautiful and historical places in West Sumatra. Here some of their activities.

Membatik    Membatik    Menari  

Membatik                                                                                                                   learning dancing

Game Tradisional   Game Tradisional    Kebun Teh       

playing Traditional Game                   Tea garden                                                                                     learning batik
Berfoto di Depan Jam Gadang    Air Terjun Lembah Anai     Panorama

Jam Gadang (clock tower)    Anay valley                                           with the lecturer

Tagged: , , ,

Feb. 22.

Deakin University Students Performed Minangkabau Dance

Dozens of of eyes impressed by the performance of Deakin University students who performed some Minangkabau traditional dances. They performed it in the Art Festival Night at Universitas Negeri Padang. These Deakin University students participated in an intensive course of Bahasa Indonesia for Foreigner (BIPA) at Indonesian Department of FBS of State University of Padang (UNP) for six weeks.

Obviously, their performance attracted many audience both UNP students and some people around the campus that Friday night (27/1). The audience is very impressed when they performed Pasambahan Dance, as the opening of that night arts program

Beside learning bahasa Indonesia, these Deakin University students also learned some Minangkabau traditional dance at Department of Drama, Dance and Music Art of FBS State UniversIty of Padang. The lecturer said that these nine students have  sense of motion art. So that, when it is supported by the seriousness, they can learn fast. Alessandra Everard, one of the admitted that studying Minang dance is very difficult. Primarily regulate the movement of the feet and supple hands. “It’s difficult, but have started to, I’ll try to learn again,” he said. When called his performance is very good, “Are you serious?”. he asked surprised, but proud.
Not just dancing, for six weeks in Padang, the students learn various things. Starting from interacting with people of different religions, cultures, customs, food, up to the weather. They also learn Minang traditional foods

Some students plan to cook this traditional food in Australia. “When I’ve tried all the food in Padang. Fried rice, fried noodles, satay, gado-gado. But the most delicious thing is rendang, ” said  Michael Filius.
Michael who prefers to be called Amaik (his Minang name) plan to work in Indonesia some day. He admitted that he had long been interested in Indonesia, since his father John Filius worked as an accountant for British Petroleum (BP) in Jakarta. “I want to work in Indonesia sometime in the future,” he said.

According to Professor Ismet Fanany, Indonesian lecturers at Deakin University who became the initiator of the program designed a language learning program filled with arts and cultural activities.
“Not only Indonesian, other languages ​​too. If you want to learn quickly the culture as well, “he said. Language teaching as well as minimize the distance that the stigma of a culture.

The Rector of UNP Prof Z Mawardi Effendi said  “Language is inseparable from culture. If we learn the language inevitably also we have to learn the culture, “. Both are related to each other he said, because the language was born as habit, which is part of the culture. He pointed out that during a visit in Australia, several years ago. He then felt he is able to speak English by practicing with the local people. But no one understood what he meant. “I think I was smart, but people do not understand,” said the professor .

Meanwhile, Dean of the Faculty of Languages ​​and Arts (FBS) the UNP, Prof M Zaim Indonesian Department UNP plan to be the center of Indonesian language teaching for foreign students and people in western Indonesia. “it has been carried out in Bali, at Udayana University.” Therefore, he said that we try it in too in Sumatra, the UNP is the center, “. (***)

Source: from various sources

Tagged: , , , , ,

Feb. 21.

Puaskan Penonton, tak Ada Latihan Khusus Ketika Mahasiswa Bule Tampilkan Tari Minang

Puaskan Penonton, tak Ada Latihan Khusus:Ketika Mahasiswa Bule Tampilkan Tari Minang

Padang Ekspres • Minggu, 29/01/2012 09:57 WIB • Laporan Heri Faisal—Padang

Malam Kesenian: Mahasiswa Deakin University mempertunjukkan Tari Minang di Unive

Ada anggapan, mempelajari bahasa asing itu sulit. Butuh kursus berbulan-bulan hingga bertahun-tahun. Ketika sudah yakin bisa, saat mempraktikkannya, orang malah tidak mengerti dengan apa yang kita bicarakan.

Namun, jurusan Bahasa Indonesia di Deakin University, Melbourne, Australia punya kiat khusus. Mengajarkan bahasa sekaligus memahani budaya. Bagaimana ceritanya ?
Sembilan mahasiswa terlihat tampan dan anggun dalam balutan pakaian adat tradisional Minangkabau berwarna warni. Warna khas merah mencolok, hijau yang penuh harapan, hingga merah muda yang menggoda kontras dengan kulit putih kemerah-merahan pemakainya.

Puluhan pasang mata, tak lepas memandangi penampilan mereka. Satu dua pemilik mata itu curi-curi kesempatan mengabadikan momen langka ini. Ada pula yang minta foto bersama.
Aneh? Tidak juga. Karena 9 mahasiswa yang memakai pakaian adat Minangkabau itu adalah bule. Mereka menjadi peserta program kursus intensif Bahasa Indonesia bagi mahasiswa Deakin University di Universitas Negeri Padang (UNP) selama enam pekan.
Terang saja, penampilan mereka menjadi tontonan khalayak malam itu, Jumat (27/1). Bisa dibilang pemandangan langka.
Histeria penonton memuncak ketika mereka menampilkan Tari Pasambahan, membuka malam kesenian dan penutupan program kerja sama kedua Universitas tersebut.

Langkah-langka gontai mereka menimbulkan decak kagum. Mengikuti iringan musik, mereka antusias menggerakan kaki, tangan, dan tubuh dengan gerakan seirama. Meski patah-patah dan kaku, penampilan mereka mendapat apresiasi luar biasa. Bule menari Minang? Ya, begitulah.
Menurut Desfiarni, dosen Seni Tari UNP penampilan mereka terbilang memuaskan untuk ukuran orang asing. “Meski gerakannya masih kaku, tetapi secara keseluruhan, bagus. Apalagi mereka latihannya hanya tiga kali. Saya kira pencapaian mereka itu sangat luar biasa,” katanya.
Dia menyebut orang dengan darah Minang yang kebudayaan sudah tertanam di kepalanya, belum tentu bisa menari hanya dengan latihan tiga kali. Tetapi mahasiswa dari Australia tersebut mampu melakukannya. Rahasianya yang paling mencolok kata Desfiarni, adalah ketekunannya. “Kami diberi waktu satu kali latihan dua jam penuh. Ya, mereka ikuti dan pantang menyerah. Itu pelajaran yang patut kita tiru,” terangnya.
Selain itu, dosen Jurusan Sendratasik ini menyebut kesembilan mahasiswa itu sudah memiliki sikap dan rasa gerak seni. Sehingga, ketika ditopang dengan keseriusan, mereka bisa menangkap pelajaran dengan cepat. Sayangnya, kata dia, mahasiswa kita minim dari segi keseriusan, terkesan jadi lambat belajar.
Alessandra Everard, salah satu mahasiswa tersebut mengaku belajar menari Minang sangat menyulitkan. Terutama mengatur gerakan kaki dan gemulai tangan. “Sangat sulit, tapi sudah mulai bisa, saya akan coba belajar lagi,” katanya. Ketika disebut penampilannya sangat bagus, Ally-panggilan akrabnya mengaku tak menyangka. “Are you serious ?”. tanyanya kaget, tapi bangga.
Tak hanya menari, selama enam minggu berada di Padang, mahasiswa-mahasiswa tersebut belajar berbagai hal. Mulai dari berinteraksi dengan masyarakat yang beda agama, budaya, kebiasaan, makanan, hingga cuaca. Mereka juga belajar bahasa Minang, termasuk memasak makanan khas Minang.
“Makanan di sini pedas, mulut saya rasanya terbakar. Tetapi menjadi biasa saja,” tuturnya. Dia berencana di Australia nanti akan mencoba memasak makanan khas Minangkabau.
“Kalau saya sudah mencoba semua makanan di Padang. Nasi goreng, mie goreng, sate, gado-gado. Tetapi yang paling enak rendang,” ulas Michael Filius, menambahkan.
Michael yang lebih suka dipanggil Amaik (nama Minangnya, red) berencana suatu saat bisa bekerja di Indonesia. Dia mengaku sudah lama tertarik dengan Indonesia, sejak ayahnya John Filius bekerja sebagai akuntan untuk British Petrolium (BP) di Jakarta. “Saya ingin bekerja di Indonesia suatu saat nanti,” katanya.
Menurut Profesor Ismet Fanany, dosen Bahasa Indonesia di Deakin University yang menjadi inisiator program tersebut, belajar bahasa akan lebih muda jika sekaligus mempelajari budayanya. Makanya dia mendesain program pembelajaran bahasa tersebut dengan diisi kegiatan seni dan kebudayaan.
“Tidak hanya bahasa Indonesia, bahasa lain juga begitu. Kalau ingin cepat pelajari juga kebudayaannya,” ujarnya. Pengajaran bahasa seperti itu juga memperkecil jarak stigma masyarakat terhadap satu budaya.
Dia mencontohkan, stigma sebagian besar masyarakat Australia terhadap Indonesia. Pasca bom Bali, masyarakat di negeri Kangguru tersebut mengganggap Indonesia sebagai negeri yang buruk, tidak aman, bar-bar, dan pandangan negatif lainnya.
“Program ini saya pikir akan membuka mata mereka. Inilah Indonesia, negeri dengan masyarakatnya yang ramah, makanannya yang lezat, dan alamnya yang indah,” terangnya. Maka dia berharap program yang sudah dimulai sejak 1993 itu terus dimanfaatkan dengan maksimal. Sehingga secara tidak langsung menciptakan hubungan baik antar bangsa, dan memacu meningkatkan kunjungan ke Indonesia.
Pentingnya pengajaran bahasa diintegrasikan dengan budaya juga diakui Rektor UNP, Prof Z Mawardi Effendi. “Bahasa tidak terlepas dari budaya. Jika kita mempelajari bahasa mau tidak mau juga harus mempelajari budaya,” katanya. Keduanya kata dia saling berkaitan, karena bahasa lahir dari kebiasaan, yang merupakan bagian dari budaya.
Dia mencontohkan saat mengunjungi Australia, beberapa tahun lalu. Dia yang saat itu merasa sudah mampu berbahasa Inggris mencoba mempraktikkan dengan masyarakat setempat. Tetapi tak seorang pun memahami apa yang dimaksudkannya. “Saya kira saya sudah pandai, tapi orang tidak paham,” tutur dosen Ekonomi itu.
Karena itu, perlu pengintegrisan antara pembelajaran bahasa dan budaya yang sinergis. Untuk program kerja sama tersebut, Mawardi menginginkan di tahun selanjutnya, pemrograman pembelajaran tidak hanya sebatas mengenalkan dan membuat mahasiswa asing bisa berbahasa Indonesia. Tetapi lebih pada peningkatan nilai jual universitas dan ikut mendorong pertumbuhan pariwisata.
Sementara itu, Dekan Fakultas Bahasa dan Seni (FBS) UNP, Prof M Zaim merencanakan jurusan Bahasa Indonesia UNP ke depan harus menjadi pusat pengajaran bahasa Indonesia untuk mahasiswa dan masyarakat asing di Indonesia bagian barat. “Di Bali, Universitas Udayana sudah laksanakan itu. Kita usahakan di Sumatera, UNP ini pusatnya,” pungkasnya. (***)

Source: http://padangekspres.co.id/

Tagged: , , ,